22 November 2008 15:18:38
Masih segar dalam ingatan kita, beberapa bulan lalu Mahasiswa ITS sempat disibukkan dengan perencanaan ide inovasi produk dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM). Kini giliran mereka yang aktif di dunia tulis menulis ditantang untuk berkompetisi dalam ajang Kompetisi Pemikiran Kritis Mahasiswa (KPKM) 2008. Program yang digelar awal Februari ini sudah dipersiapkan sedemikian rupa dengan digelarnya Goes To KPKM 2008 oleh Departemen RISTEK BEM ITS.
Teknik Informatika, ITS Online – KPKM sendiri merupakan agenda tahunan DIKTI yang mewadahi Mahasiswa dalam bidang penulisan yang berorientasi pada hasil dari pemikiran kritis Mahasiswa, tidak seperti Program Kreativitas Mahasiswa yang menitik beratkan pada inovasi produk dan kepedulian terhadap masyarakat, Kompetisi Pemikiran kritis ini difokuskan untuk identifikasi kebijakan yang telah, sedang dan yang akan diterapkan oleh Pemerintah.
Selain itu, dengan program ini diharapkan Mahasiswa mampu memberi solusi konkrit dan dapat dipertanggungjawabkan atas apa yang telah ditulisnya. Solusi yang ditawarkan hendaknya juga memiliki landasan teori yang jelas dan realistis.
Acara yang digelar di Gedung baru Teknik Informatika ITS ini menghadirkan 3 narasumber yang sesuai dengan bidang yang diperlombakan. Mereka adalah Putu Gde Ariastita, dosen dari PWK, Nani Kurniati dari Teknik Industri, dan Suyanto dari Teknik Fisika. Tiga bidang yang dilombakan oleh DIKTI antara lain adalah Kesejahteraan Masyarakat (KESRA), Politik Hukum dan Keamanan (POLKAM), dan Ekonomi.
Dikatakan oleh salah satu narasumber, Putu Gde Ariastita, tidak harus mereka yang berkecimpung di dalam disiplin ilmu itu yang boleh ikut serta dalam kompetisi ini. “Tujuannya adalah memancing Mahasiswa mana saja yang ingin mengkritik kebijakan Pemerintah, tak harus turun ke jalan lalu teriak – teriak,” ungkap Ariastita. “Lewat KPKM ini tulis saja uneg-unegmu,” tambahnya.
Disampaikan pula oleh Nani Kurniati, beberapa hal yang harus diperhatikan oleh calon peserta KPKM adalah urgensi dari tulisan itu sendiri, jangan sampai penulis tidak tahu apa yang ditulis. Harus dijelaskan lebih rinci efek positif atau negatifnya jika kebijakan pemerintah itu terus dilaksanakan. Tidak lupa disampaikan oleh Nani, peserta harus selalu memperhatikan format penulisan yang telah distandarisasikan oleh DIKTI. “Hal inilah yang sering menyebabkan karya tulis ditolak hanya gara – gara penulis tidak mematuhi aturan yang ada,” papar Nani.
sumber : http://v4.its.ac.id/berita.php?nomer=5186